Wilujeng Sumping! Selamat Datang!
Cari Jurusan Angkot Daftar Jurusan Angkot Tip naik Angkot Mengatasi Kemacetan

Mengatasi Kemacetan Kota Bandung (juga kota lain)

Jalan-jalan dikota Bandung sangat ramai dengan kendaraan dan disana-sini sering terjadi kemacetan. Kemacetan membuat kita tidak nyaman hidup dikota ini. Apalagi di akhir pekan banyak orang Jakarta berkunjung ke Bandung membawa kendaraan pribadi. Jalanan semakin penuh sesak. Menambah kemacetan sudah barang tentu!

Kata orang penyebab kemacetan kota Bandung ada 101 macam. Makanya mengurai kemacetan dikota Bandung itu susaaah banget! ya iyalah, mengatasi 1 masalah saja udah minta ampun susahnya apalagi mengatasi 101 masalah.

Dari sekian banyak masalah, salah satu penyebabnya ialah angkot di Bandung sudah terlalu banyak. Lihat saja di jalan-jalan yang macet ini banyak sekali angkot berkeliaran, tapi sayangnya penumpang yang ada diangkot cuma ada beberapa orang. Ada orang yang mengatakan ini disebabkan izin trayek masih terus diberikan, walaupun jumlah angkot sudah lebih dari cukup. Ada yang mengatakan: dulu banyak orang bepergian naik angkot, sekarang beralih naik sepeda motor. Sekarang ini, mendapatkan kredit sepeda motor begitu mudahnya. Uang muka kecil, cicilanpun ringan. Ada pula yang menduga banyak angkot bodong alias tidak mengantongi izin trayek tapi tetap beroperasi. Kalau saya pribadi menduga masalah ini akibat komplikasi dari sebab-sebab yang telah disebutkan. Kalau mau gampang kurangi saja angkot-angkot itu! Tapi ini tak mungkin, dari mana si sopir angkot akan mendapat uang untuk anak istrinya bila tiba-tiba harus dihentikan dari pekerjaannya. Pelik bukan?

Tapi percaya atau tidak, baru-baru ini saya mendapat ilham untuk memecahkan masalah angkot di kota Bandung. Kalau ilham saya ini dapat dilaksanakan, maka dapat dipastikan angkot yang berkeliaran yang tiba-tiba berkurang. Hasilnya kemacetan dapat dikurangi. Pemecahan ini dijamin "tanpa biaya" dan tanpa menimbulkan masalah baru (wow keren!) Cuma membutuhkan kemauan politik dari para pemimpin belaka. Penasaran? ikuti terus cerita saya.

Eureka! Eureka!

Eureka adalah bahasa Yunani artinya "telah Kutemukan". Menurut cerita, Archimedes penemu hukum gaya apung itu telah berminggu-minggu tidur tidak nyenyak dan makan tidak lahap karena berfikir keras untuk memecahkan suatu masalah. Ketika Archimedes tengah mandi berendam untuk santai sejenak, datanglah kepadanya ilham yang mencerahkan itu. Archimedes sangat kegirangan iapun berlari keluar kamar mandi sambil berteriak : "Eureka! Eureka!". Konon ia berlari tanpa berpakaian. Saking gembiranya beliau sampai lupa diri.

Tahukah anda apakah itu ilham? Ilham atau pewahyuan atau wangsit atau hidayah atau apapun namanya adalah pencerahan yang datang begitu saja dari langit. Sekarang saya akan bercerita bagaimana saya mendapat ilham untuk mengatasi kemacetan kota Bandung.

Seperti biasa kalau ada kesempatan luang saya melakukan suvai jalur angkot untuk melengkapi data pada situs ini. Kali ini saya mensurvai angkot jurusan Sederhana - Cimindi. Pada angkot ini saya mendapatkan suatu temuan: Angkot jurusan Sederhana - Cimindi penumpangnya selalu penuh!! Sayapun mencari tahu apa penyebabnya. Penyebabnya bukan jumlah penumpang yang banyak atau jumlah angkot yang sedikit. Tetapi angkot yang ada dijalan sedikit sekalipun angkot yang beroperasi banyak. Sekali lagi saya tegaskan jumlah angkot boleh banyak tetapi yang beroperasi haruslah sedikit. Lalu ada dimanakah angkot yang tidak boleh beroperasi? Menunggu giliran diberangkatkan di terminal! Untuk lebih dimengerti cobalah amati animasi dibawah ini:

Maaf broser anda tidak mendukung HTML 5
Animasi Tidak dapat dilihat
Coba gunakan google Crome atau Mozilla Firefox terbaru

Marilah kita bandingikan dengan Angkot Sederhana - Cipagalo. Angkot ini, ketika sampai dipasar Sederhana langsung berangkat. Jadi semua angkot Sederhana - Cipagalo (yang banyak itu) ada di jalan, tak ada angkot yang menunggu di terminal. Ini namanya pekerjaan sia-sia cuma bikin sempit jalan di kota Bandung, mengabiskan uang dan BBM. Ini terbukti ketika saya hendak pulang dari survai saya naik angkot Sederhana - Cipagalo ini. Percaya atau tidak : dari pasar Sederhana ke terminal Abdul Muis yang jaraknya 10km itu cuma bawa penumpang 3 orang saja!! Menyedihkan bukan? Itulah akibatnya kalau semua angkot dibiarkan turun kejalan. Perhatikan animasi diatas. Kalau semua angkot turun kejalan, maka akibatnya jalan menjadi menjadi padat. Pada gilirannya mengakibatkan kemacetan.

Seharusnya angkot menunggu, antri di terminal untuk diberangkatkan. Aturlah periode pemberangkatan sedemikaian sehingga penumpang pada angkot hampir penuh. Misalnya boleh dicoba periode pemberangkatan 4 menit sekali. Bila ternyata penumpang pada angkot masih belum penuh, periode ditambah menjadi 6 menit sekali. Demikian seterusnya sampai didapat periode memberangatan optimum. Dengan demikan bahan bakar dapat dihemat (penghasilan sopir meningkat), jalanpun tidak macet. Solusi yang cantik bukan?? Eureka!

Matematika angkot

Tentang Pendapatan

Tunggu dulu bung!! Dengan mengatur perioda/memperlambat pemberangkatan bukankah akan menurunkan pendapatan (uang) sopir angkot? Jawabannya adalah tidak! Karena pendapatan sopir angkot hanya dipengaruhi oleh banyaknya penumpang, tidak oleh perioda pemberangkatan. Karena setiap sopir dikenai aturan main yang sama. Makanya peluang mendapakan penumpan pun sama, tidak tergantung aturan main. Memang harus diakui pengaturan periode ini harus diberlakukan se Bandung raya, kalau tidak angkot yang tidak diatur akan merugikan angkot yang diatur.

Inilah rumus pendapatan sopir angkot.

I = P.Cp/N.....................................(1)

dimana :
I adalah pendapatan dalam rupiah
P adalah banyaknya Penumpang
Cp adalah tarip angkot
N adalah banyaknya angkot

Contoh : Berapa pendapatan rata-rata supir bila banyaknya penumpang P = 10.000 (sepuluh ribu). Tarip angkot Cp = Rp 3.000 dan banyaknya angkot N = 100 buah.

Jawab:

I = 10.000 x 3000/100 = 300.000 (tiga ratus ribu rupiah)

Tentang okupasi

Misalnya kapasitas angkot 12 penumpang bila terisi penuh disebut okupasi 100%. Bila terisi setengahnya, 6 penumpang okupasi 50%. Ternyata antara periode pemberangkatan angkot dan okupasi ada hubungan yang berbanding lurus. Misalnya pada perioda angkot 4 menit okupasi 100%. Bila perioda angkot dipersingkat menjadi setengahnya 2 menit, okupasi menjadi 50%. Ini disebut hukum kontinuitas atau hukum kekekalan penumpang. Ibaratnya kalau dalam ilmu fisika disebut hukum kekekalan masa..

Mari kita tinjau lebih lanjut : kita hitung dulu besarnya laju penumpang Q. misalnya banyaknya penumpang P=10,000 dan jam operasi t = 10 jam. maka laju penumpang

Q = P/t = 10,000/(10x60) = 16.667 penumpang/ menit......................(2)

akan berlaku rumus

Q = f.S.O ...............................................................(3)

Q = adalah laju penumpang (penumpang/menit)
f = adalah frekuensi dalam jumlah pemberangkatan tiap menit
S = adalah banyaknya tempat duduk (seat)
O= adalah okupasi

Hubungngan antara frekwensi dan periode T adalah f = 1/T
Maka, rumus 3 sekarang menjadi

Q = SO/T atau O = Q.T/S ................................(4)

Dari rumus (4) terbukti bahwa okupasi berbanding lurus dengan perioda. Makin lama angkot diberangkatkan, bangku akan semakin terisi penuh! (ya iyalah supir angkotpun tahu itu!)

Berapakah periode agar terjadi okupasi 100% bila tempat duduk yang tersedia pada angkot 12?

Dari rumus (4)

T = SO/Q = 12x100% / 16.667 = 0.72 menit = 0.72 x 60 = 43 detik

Tentang Siklus Kerja

Sehubungan dengan panjang jalan yang terbatas bila perioda pemberangkatan angkot lama, maka banyak angkot yang tertahan di terminal. Prosentasi angkot yang ada dijalan disebut siklus kerja. Misalnya siklus kerja 60%, artinya 60% angkot ada dijalan dan sisanya 40% angkot istirahat di terminal.. Kalau ada 100 angkot maka 60 angkot ada dijalan dan 40 angkot ada di terminal.

Karena perioda kita buat tetap, maka banyaknya angkot dijalan sebanding dengan waktu yang dibutuhkan menyelesaikan satu kali perjalanan. Jadi siklus kerja 60% juga berarti pula 60% waktunya digunakan untuk bekerja mencari penumpang dan sisanya 40% istirahat di terminal. Itulah sebabnya disebut siklus kerja. Kalau waktu perjalanan adalah 60 menit, maka waktu istirahat di terminal adalah 40 menit.

Misalnya kecepatan rata rata angkot v dan periode pemberangkatan T, maka jarak antar angkot adalah v.T Bila panjang lintasan L maka banyaknya angkot dijalan adalah : L/(v.T). Maka besarnya siklus kerja

D = L/(v.T.N).................................................(5)


D = siklus kerja
v = kecepatan rata - rata angkot
T = Perioda
N = jumlah angkot
L = panjang lintasan

Perhatikan ternyata siklus kerja berbanding terbalik dengan besarnya perioda pemberangkatan. Ini tidak mengejutkan bagi kita. Kalau perioda pemberangkatan dibuat lama pastilan angkot yang ada dijalan menjadi sedikit.

berapakah siklus kerja angkot apabila kecepatan rata-rata angkot v = 20 km/jam dan panjang lintasan 15 Km, jumlah angkot N = 100 dan periode 0.72 menit?

kecepatan angkot v = 20km/jam = 20/60 = 0.333Km/ menit.

D = L/(v.T.N) = 15/(0.333x0.72x100)
D = 0.625 = 62.5%

Waktu tempuh angkot L/v = 15/0.33 = 45menit. Karena siklus kerjanya D= 62.5% maka sisa waktu sebesar 37.5% untuk menunggu di terminal, sebesar 37.5/62.5x45 = 27 menit.

Jadi siklus kerja angkot sebesar 62.5% dengan 45menit jalan dan 27 menit berhenti menunggu di teminal.

Karena siklus kerja D sebanding dengan jumlah angkot dijalan dan okupasi O sebanding dengan banyaknya penumpang yang diangkut, mengingat hukum kekekalan penumpang: hasil perkalian O dan D berharga tetap. Ini seperti yang kita kenal dalam kehidupan sehari-hari. Kalau angkot sedikit, akan penuh dengan penumpang, Sedang kalau angkot banyak akan mendapat sedikit penumpang.

Dari persamaan (5) dan (4) akan didapat :

O.D =Q.L/(S.v.N).................................................(6)

persamaan (6) merupakan bentuk lain dari hukum kekekalan penumpang yakni hasil kali antara O dan D selalu berharga tetap.

Cara Lain Menghitung Pendapatan Angkot

Pendapatan sopir angkot bisa dihitung dengan cara lain yaitu :

I = R.O.S.Cp.........................................(7)

I = pendapatan
R = jumlah pemberangkatan
S = Jumlah tempat duduk
Cp = Tarip angkot
O = okupasi.

Jumlah pemberangkatan dapat ditulis sebagai

R = v.t.D/L........................................(8)

v = kecepatan
t = waktu operasi
D = siklus kerja
L = panjang lintasan

maka dari persamaan (7) dan (8) Pendapatan sopir angkot adalah

I = O.D.v.t.S.Cp/L ............................(9)

apabila kita subtitusi secara aljabar besaran-bersaran pada persamaan (9) dari persamaan sebelumnya (6) dan (2) maka akan didapat kembali seperti persamaan (1). Silahkan buktikan sendiri!!

Apabila kita cek secara numerik pada perhitungan sebelumnya didapat :

v = 20Km/jam ; D = 62.5%; O = 100% ; t = 10jam; S = 12 tempat duduk; Cp = 3000 rupiah; L = 15Km maka pendapatan sopir

I = D.O.v.t.S.Cp/L = 62,5%x1.00%x20x10x12x3000/15 = 300,000
sama aja dengan perhitungan sebelumnya!!!

Tentang Biaya Bahan Bakar

Setelah berhasil menghitung penghasilan angkot marilah sekarang kita menghitung besarnya pengeluaran untuk membeli bahan bakar. Banyaknya bahan bakar yang dikeluarkan akan sesuai dengan rumus :

B = D.V.t.Co ...............................(10)

dimana:
B = biaya dalam rupiah
D = siklus kerja (persen)
V = kecepatan rata-rata angkot (km/jam)
t = Jam operasi angkot (jam)
Co = tarip bahan bakar dalam rupiah/Km

Nyatalah biaya bahan bakar tergantung dari siklus kerja D. Makin kecil siklus kerja makin sedikit pula biaya bahan bakar. Agar biaya bahan bakar seminim mungkin buatlah siklus kerja kecil (baca periode angkot sebesar mungkin). Caranya aturlah periode angkot sebesar mungkin yaitu sedemikan sehingga okupasi 100%.

Imbal Beli Antara Siklus Kerja dan Okupasi

Kata nenek : "Tak ada makan siang yang gratis, orang harus rajin bekerja ". Angkot dengan siklus kerja yang rendah artinya si sopir banyak santainya dari pada kerja. Duduk-duduk sambil ngegosip, main catur, mengisi waktu senggang menanti giliran untuk berangkat. Tetapi dibandingkan dengan sopir yang "rajin bekerja", semua turun kejalan mencari muatan. Penghasilan sopir sopir yang "rajin" tidak akan lebih besar dari sopir yang santai. sebaliknya penghasilannya malah lebih kecil karena harus membayar bahan bakar lebih banyak plus bikin macet jalan. Kalau bisa santai mengapa harus rajin?? Ingat hukum kekekalan penumpang. Seberapapun "rajinnya" sampai jungkir balik (atau seberapapun malasnya) jumlah penumpang tak akan bertambah atau berkurang,

Jadi kali ini perkatan nenek tidak berlaku. Rahasianya adalah adanya imbal beli antara okupasi (O) dan siklus kerja (D). Siklus kerja boleh kecil, tapi sebagai gantinya didapat angka okupasi yang tinggi (angkot lebih penuh). Lihat persamaan (6) dan (9).

Untuk rencana jangka panjang dan menghormati nasehat nenek. Ada baiknya kalau siklus kerja tinggi, okupasi tinggi pula. Untuk maksud tersebut ada baiknya angkot dikurangi dengan merumahkan secara bergilir. Sebagai gantinya Pemkot Bandung mendirikan pabrik Combro (makanan khas Bandung). Sopir angkot yang dirumahkan dipekerjakan pada pabrik Combro tersebut. Kemudian Cobro yang dihasilkan dapat diexport keluar daerah. (bercanda)

Kesimpulan

Wadaw, wadaw!! Rumit amat ya matematikanya. Saya yang nulis aja pusing, bagaimana yang baca ya?? Kenapa konsep yang sederhana harus dibikin rumit sih. Namanya juga untuk menyakinkan. Bila dibahas dengan cara sederhana kebanyakan orang ngak percaya saking sederhananya. Supaya tidak pusing ini kesimpulan untuk mengatasi kemacetan gara-gara kebanyakan angkot.

  1. Sebaiknya jangan semua angkot berkeliaran di jalan ini hanya akan bikin penuh jalan, bikin macet, membuat angkot cepat rusak, membuat sopir lelah, membuat banyak polusi dan memboroskan BBM dan buang uang sia-sia.
  2. Angkot yang tidak ada di jalan menunggu giliran diberangkatkan di Terminal
  3. Agar ongkos bahan bakar sehemat mungkin aturlah periode sedemikan sehingga okupasi mendekati 100%.
  4. Dengan cara seperti ini penghasilan sopir tidak akan berkurang, malahan bertambah karena ongkos bahan bakar menjadi berkurang.

Sekian semoga dapat dipahami dan bermanfaat (Hartono, Oktober 2012)

Menu:
Kuliner
Hotel
Angkot
Jual Rumah
Info Kost
About Us

Cari
Dalam Peta :


Artikel:
Menentukan arah kiblat dengan benar