Tujuh Bidadari

Gambar di atas adalah screen shoot dari program "planetarium" buatan Neave. Tampak pemandangan di sebelah Timur: Orion, Aldebaran(Taurus) dan Pleiades. Pengamat di kota Bandung Indonesia, bulan Agustus menjelang Subuh. Klik gambar di atas untuk melihat foto asli.

Penasaran Ingin Melihat Kartika (Pleiades)

Setelah saya melihat Orion untuk pertama kalinya, saya jadi ketagihan... jadi ingin tahu lebih lanjut tentang rasi bintang yang lain. Kali ini saya ingin melihat Pleiades. Kelompok (cluster) bintang Pleiades mempunyai nama lain seperti: Subaru (Jepang), Lintang Wuluh (Jawa), Kartika (Sansekerta), Seven Sisters (Inggris), Bintang Tujuh (Melayu) dll. Selama ini saya mengenal: Subaru itu merek mobil buatan Jepang dan Bintang Toejoe itu obat sakit kepala.

Saya penasaran ingin melihat Pleiades(Kartika) sehubungan ada tertulis dalam kitab Ayub. Silakan baca tulisan saya, jika anda ingin membaca kisah nabi Ayub.

Oke, saya ingin melihat Pleiades (Kartika) malam ini juga!! Tapi saya tidak tahu petunjuk praktisnya. Maka bertanyalah saya pada Mbah Google, mungkin si Mbah tahu. Hore! ternyata untuk mencari Pleiades di langit tidaklah sukar. Begini petunjuk si Mbah: Lihatlah Orion (Belantik). Tariklah garis lurus dari Sabuk Orion (Orion Belt). Belum tahu apa itu Sabuk Orion? Itu lho, tiga bintang yang terletak hampir seperti garis lurus! Ikuti garis arah sabuk Orion ke utara. Di sana kita akan menjumpai bintang sangat cemerlang bernama Aldebaran. Letak Aldebaran pada rasi bintang Taurus sang Banteng. Aldebaran bersama bintang lain di rasi Taurus akan membentuk huruf V tanduk sang Banteng. Kalau anda melihat huruf V dan bintang yang sangat cemerlang, tak salah lagi itulah Aldebaran. Terus lanjutkan, menarik garis lurusnya maka akan terlihatlah Pleiades!! Bintang yang aku cari-cari itu! Masih bingung? coba klik gambar di atas!

Asyik, yah! Sabuk Orion dapat kita gunakan sebagai petunjuk arah. Kalau di Indonesia, sabuk Orion itu hampir mengarah ke Kiblat ketika Orion ada di atas kepala kita. Selain itu pedang Orion dapat kita gunakan sebagai petunjuk arah selatan. Ada bintang yang menarik pada arah sabuk Orion... Dia adalah Sirius, bintang juara dunia. Sang Sirius adalah bintang yang paling terang sejagat dilihat dari bumi (matahari tak ikutan dalam lomba ini). Orang Mesir Kuno menandai kemunculan Sirius berarti datangnya bencana banjir di sungai Nil, sehingga menurut mereka Sirius amat berkuasa dan menganggapnya sebagai dewa. Ada sih bintang yang lebih terang dari Sirius, yaitu Venus atau Bintang Fajar (bintang Kejora). Tapi Venus kan sebenarnya planet, bukan bintang, jadi nggak masuk hitungan. Orang yang rajin sholat subuh di mesjid biasanya kenal dengan Venus, "bintang" yang muncul waktu subuh di sebelah Timur.

Letak bintang Sirius mudah dikenali dengan menarik garis pada sabuk Orion, tapi pada arah sebaliknya yaitu ke arah selatan. Sirius berada pada rasi bintang Canis Mayor sang Anjing Besar. Bintang Sirius tercatat pula dalam kitab suci Al Qur'an.

Petunjuk arah yang melalui Orion untuk melihat bintang lain

Wah, berarti selain melihat Pleiades saya nanti akan melihat Sirius bintang paling cemerlang, dan juga Aldebaran. Saya menjadi semakin bergairah ingin segera melihatnya!

Lihat Bintang Sambil Jalan-jalan

Hal yang perlu diperhatikan sebelum melihat bintang adalah mencari tahu jam berapa bintang tersebut muncul dan di sebelah mana letaknya. Hal itu akan tergantung bulan apa kita melihatnya. Sekarang bulan Agustus tahun 2013 saat libur Lebaran. Saya harus tahu kapan Orion dapat terlihat. Untuk itu saya harus melihat simulator penampakan atau bintang terbit. Ternyata pada bulan Agustus atau Mangsa ke-2 menurut Pranata Mangsa, Orion akan terbit di sebelah Timur pada waktu subuh.

Kita bisa juga melihat langit melalui simulator langit, misalnya Planetarium buatan Neave. Program Planetarium berbasis web browser buatan Neave ini bagus banget. Seakan-akan kita bisa melihat langit yang sebenarnya. Dengan program Planetarium ini kita bisa tahu jam berapa dan di sebelah mana bintang yang dimaksud dapat kita lihat. Pada browser Google Crome, Planetarium bisa ditempelkan sebagai aplikasi, sehingga tak perlu terhubung dengan internet ketika menjalankannya. Program ini gratis! Jadi tidak ada alasan untuk tidak memilikinya.

Oke, sekarang saya tahu... karena ini bulan Agustus, saya harus bangun sebelum subuh jam 3:30 untuk melihat Orion, Pleiades dan kawan-kawannya. Saya melihat di tengah-tengah kota Bandung dekat Alun-alun Bandung Kebetulan ini awal bulan Syawal jadi tak ada bulan (langit gelap). Sayang tak dapat melihat Venus. Kok tahu? Kan, sebelumnya saya melihat langit lewat Planetarium!

Kini saatnya melihat Pleiades untuk pertama kali. Saya bangun sebelum subuh dengan penuh gairah. Memang benar, melakukan sesuatu untuk pertama kali biasanya menggairahkan. Pandangan diarahkan ke kaki langit sebelah Timur, terlihat Orion tengah terbit! Lalu gunakan formula si Mbah Google. Tarik garis lurus dari sabuk Orion ke arah Selatan... terlihatlah Sirius bintang yang paling terang sedunia. Wow! terlihat betapa cemerlangnya Sirius. Tarik garis lurus dari Sabuk Orion ke arah Utara... terlihat bintang cerah Aldebaran bersama bintang lain membentuk huruf V tanduk sang Banteng. Teruskan tarik ke Utara untuk melihat Pleiades........., tapi kok nggak kelihatan Pleidesnya. Di manakah gerangan Pleiades berada? Mata saya tak berkedip untuk mencari Pleiades. Akhirnya ketemu juga bintang yang letaknya berdesak-desakan itu. Tapi cuma kelihatan 4 buah (Maia, Electra, Atlas, Alcyone?) Itupun terlihat samar-samar. Mata saya sampai pedih untuk dapat melihat Pleiides karena harus memandang lama tanpa berkedip agar Pleiades yang samar-samar itu dapat terlihat.


Pleiades ternyata sulit dilihat di kota Bandung . Terlihat hanya 4 bintang: Atlas, Alcyone, Maia dan Electra

Tadi sudah saya katakan bahwa saya melakukan pengamatan ini di tengah kota Bandung, tepatnya dekat Alun-alun Bandung. Ternyata tidak mudah melihat Pleiades di tengah kota Bandung. Di malam hari Bandung temaram dengan lampu-lampu kota. Idealnya, untuk mengamati bintang, lingkungan harus gelap. Ternyata dengan adanya gangguan lampu-lampu kota di malam hari, bintang-bintang yang redup tidak terlihat. Di zaman Nabi Ayub dulu, tentunya orang dapat melihat Pleiades dengan jelas.Thomas Alfa Edison si penemu lampu listrik baru lahir lebih dari 3500 tahun setelah zaman Ayub. Kabarnya di kota kelahiran Edison, satu tahun sekali lampu listik dimatikan untuk memperingati hari kelahirannya. Bagus juga kalau hal itu dilakukan di Indonesia, misalnya pada hari raya Nyepi. Kan pada hari raya Nyepi kita tidak boleh menyalakan api. Kalau gelap, kita bisa lihat bintang-bintang bertaburan di langit!

Wah, saya jadi penasaran, ingin menyaksikan Pleiades seperti yang dilihat Nabi Ayub dahulu kala! Maka saya putuskan besok akan melihat Pleiades di Bukit Punclut, pastinya lingkungan lebih gelap. Punclut adalah kawasan wisata di Bandung Utara. Letak Bukit Punclut di pinggir kota. Anggaplah melihat bintang sambil jalan-jalan. Besoknya saya bangun pukul 3:30 dan berjalan kaki ke Bukit Punclut. Kebetulan saya tinggal di Kawasan Dago, jadi Bukit Punclut bisa ditempuh dengan berjalan kaki. Benar, sesampainya di Bukit Punclut, lebih banyak bintang yang terlihat di langit. Pleiades terlihat lebih jelas, tidak samar seperti sebelumnya. Tapi saya tidak terlalu puas, karena lagi-lagi hanya 4 buah bintang yang terlihat! Untuk melihat Pleiades secara utuh di sini mungkin harus dibantu teropong. Kalau ada waktu, lain kali saya ingin mencoba tempat pengamatan yang lebih baik (gelap). Mungkin di lokasi terpencil antara Bandung dan Lembang.

Memang di Bukit Punclut, masih terlihat lampu-lampu kota Bandung. Inilah yang mengganggu pengamatan bintang. Sayapun memotret kota Bandung dilihat dari Punclut di waktu subuh. Inilah hasilnya

Setelah mengamati bintang, saya tidak segera pulang. Saya tak ingin melewatkan momen yang indah: menyaksikan matahari terbit di Bukit Punclut!. Menjelang matahari terbit, langit menjadi lukisan yang indah penuh warna-warni.

Ini foto saat matahari terbit.

Hari telah semakin siang, perut terasa lapar. Di Punclut banyak terdapat kedai yang menjual masakan khas Sunda. Punclut memang kawasan wisata kuliner sambil menjual view yang indah. Sayang pilihannya tak banyak. Hampir semua kedai di sini menawarkan masakan Sunda. Sedikit sekali kedai yang menyediakan Chinese food, sea food atau jenis masakan lain. Terbayang dalam pikiran saya akan makan enak, Ayam goreng, sambal terasi dan lalab, sedap......Tapi ya ampun dompet saya ketinggalan. Rupanya, subuh tadi saya berangkat tergesa-gesa, takut kesiangan. Ini foto tempat makan di Punclut hasil copy paste situs orang lain.

Ya sudah, tidak apa-apa, dengan perut lapar saya jalan kaki pulang ke rumah. Nanti makannya di rumah saja!. Di perjalanan saya disuguhi view Puncut yang indah. Ini foto view Punclut, lagi-lagi dari situs orang.

Wah, hari ini saya mendapatkan banyak hal: Sirius, Orion, Aldebaran, Plaides, Matahari terbit, makan-enak(dalam khayalan), view Punclut yang indah. Jalan-jalan yang menyenangkan, bukan? Akhir kata, terimakasih telah membaca artikel ini.


Jadilah orang yang pertama mengirim komentar