Kalender Bulan (bagian 5)

Kalender Islam

Kali ini kita akan membahas tentang kalender Islam (kalender Hijriah). Banyak hal yang akan kita bahas, di antaranya: Kriteria-kriteria tentang jatuhnya bulan baru pada kalender Hijriah dan kemungkinan membuat kalender Hijriah yang berlaku secara internasional.

Kalender Urfi

Kebudayaan umat manusia mengenal 3 macam keluarga kalender:

  1. Kalender Matahari, misalnya: Kalender Internasional Gregorian, Pranata Mangsa (Jawa)
  2. Kalender Bulan-Matahari, misalnya: Kalender Yahudi, Kalender China, Kalender Gereja, Kalender Saka(Hindu).
  3. Kalender Bulan: Kalender Islam.

Bagi kita orang Indonesia, kalender Islam sudah tidak asing lagi karena tiap tahun kita menjalankan ibadah Puasa, merayakan Lebaran, merayakan Idul Adha dan hari besar lainnya berdasarkan kalender Islam. Kalender Islam adalah kalender bulan, satu tahunnya terdiri dari 12 siklus sinodis bulan. Kalender Arab sebelum Islam sebenarnya adalah kalender bulan-matahari. Karena itu nama-nama bulan pada kalender Islam dikaitkan dengan musim, misalnya Rabiul Awal itu artinya awal musim semi. Seperti kalender Yahudi dan kalender China, agar datangnya bulan selalu serempak dengan datangnya musim, 2 atau 3 tahun sekali perlu disisipkan bulan ke-13. Orang-orang Arab zaman dahulu merayakan bulan sisipan ke-13 ini, dengan perayaan-perayaan kafir. Sejak zaman Islam, Nabi Muhammad melarang penyisipan bulan ke-13 yang disertai perayaan kafir tersebut. Jadi kalender Arab sesudah Islam adalah kalender bulan murni. Meskipun demikan nama-nama bulan yang terkait dengan musim masih dipertahankan. Dengan demikian tibanya bulan Rabiul Awal tidak lagi serempak dengan awal musim semi. Kalender Islam ini disebut juga kalender Hijriah. Tahun pertama kalender Hijriah terhitung sejak Nabi Muhammad Hijrah (berpindah) dari kota Mekkah ke kota Medinah

Sejak ribuan tahun yang lalu, manusia telah mengetahui bahwa siklus bulan sangat baik untuk mencatat waktu. Mereka membuat sistem penanggalan berdasarkan siklus sinodis bulan. Orang zaman dahulu kala telah mengenal bahwa siklus sinodis rata-rata 29,5 hari. Berdasarkan siklus sinodis rata-rata inilah orang membuat kalender urfi (kalender aritmatika). Jumlah hari dalam kalender urfi Islam berselang-seling 29 hari atau 30 hari. Jumlah hari pada bulan ganjil 30 hari dan jumlah hari pada bulan genap 29 hari. Jumlah hari yang berselang-seling ini dibuat agar sesuai dengan siklus sinodis yang rata-rata sebesar 29,5 hari. Di Indonesia masih ada masyarakat yang memelihara kalender urfi ini, misalnya sekelompok masyarakat di Sumatra Barat.

Hijriah 1421 di kota Mekkah (salah 8)

Bulan Tanggal 1
Hisap Hakiki

Tangal 1
Hisap Urfi

Elongasi (hisap hakiki)

Beda Tinggi (hisap hakiki)
(1)Muharam 06-04-2000 (29) 06-04-2000 (30) 11,6° 10,6°
(2)Safar 05-05-2000 (30) 06-05-2000 (29)+ 7,2° 5,0°
(3)Rabiul Awal 04-06-2000 (29) 04-06-2000(30) 16,2° 13,9°
(4)Rabiul Akhir 03-07-2000(29) 04-07-2000(29)+ 11,4° 9,7°
(5)Jumadil Awal 01-08-2000(30) 02-08-2000(30)+ 7.3° 6.5°
(6)Jumadil Akhir 31-08-2000(29) 01-09-2000(29)+ 16.3° 14,1°
(7)Rajab 29-09-2000(30) 30-09-2000(30)+ 10.6° 9,9°
(8)Sya'ban 29-10-2000(29) 30-10-2000(29)+ 15,2° 13,5°
(9)Ramadhan 27-11-2000(30) 28-11-2000(30)+ 7,0° 6,8°
(10)Syawal 27-12-2000(30) 28-12-2000(29)+ 8.9° 8,2°
(11)Dzulkaidah 26-01-2001(30) 26-01-2001(30) 11,1° 10,2°
(12)Dzulhijah 25-02-2001(29) 25-02-2001(29) 14,1° 13,3°

Hijriah 1422 di kota Mekkah (salah 2)

Bulan Tanggal 1
Hisap Hakiki

Tangal 1
Hisap Urfi

Elongasi (hisap hakiki)

Beda Tinggi (hisap hakiki)
(1)Muharam 26-03-2001(30) 26-03-2001(30) 7,6° 6,0°
(2)Safar 25-04-2001(29) 25-04-2001(29) 12,0° 11,2°
(3)Rabiul Awal 24-05-2001(30) 24-05-2001(30) 6,5° 5,4°
(4)Rabiul Akhir 23-06-2001(29) 23-06-2001(29) 15,0° 13,9°
(5)Jumadil Awal 22-07-2001(30) 22-07-2001(30) 11,3° 10,4°
(6)Jumadil Akhir 20-08-2001(29) 21-08-2001(29) 7,8° 7,6°
(7)Rajab 19-09-2001(29) 19-09-2001(30) 16,8° 14,5°
(8)Sya'ban 18-10-2001(30) 19-10-2001(29)+ 10,8° 9,8°
(9)Ramadhan 17-11-2001(29) 17-11-2001(30) 16,2° 13,4°
(10)Syawal 16-12-2001(30) 17-12-2001(29)+ 8,1° 6,8°
(11)Dzulkaidah 15-01-2002(30) 15-01-2002(30) 11,6° 10,0°
(12)Dzulhijah 14-02-2002(30) 14-02-2002(29) 14,3° 13,2°

Kalender urfi ini tidak bisa seiring dan sejalan dengan bulan yang sebenarnya di langit. Kesalahannya bisa 1 hari (kadang-kadang 2 hari). Pada kalender Islam (juga kalender Yahudi) tanggal 1 ditandai dengan munculnya bulan sabit untuk pertama kalinya, sesaat setelah matahari terbenam. Mengapa bisa terjadi kesalahan pada kalender urfi ini?? Ternyata pergerakan bulan itu rumit sekali, tidak bisa ditebak, lamanya bulan bisa 29 hari atau 30 hari dengan perhitungan aritmatika sederhana. Bulan dengan 30 hari 3 kali berturut-turut bisa terjadi, misalnya bulan Ramadhan, Syawal, Dzulkaidah 1421H. Bulan 29 hari 2 kali berturut-turut sering terjadi misalnya Jumadil Akhir dan Rajab 1421H (lihat hisap hakiki tabel di atas) Kalender urfi menganggap lamanya bulan berselang-seling 30 dan 29 hari, itulah sebabnya kalender urfi bisa salah. Jadi kalau menurut kalender urfi tanggal 1 belum tentu tanggal 1 yang sebenar-benarnya, alias belum tentu terlihat hilal pertama.

Kalender Gereja menggunakan hisap urfi seperti ini dalam menentukan Purnama Paskah. Jadi sebenarnya Purnama Paskah gereja bisa meleset 1 sampai 2 hari. Kalau orang Kristen nyaman-nyaman saja dengan kesalahan tersebut, tidak demikian dengan umat Islam ketika memulai puasa 1 Ramadhan dan merayakan hari raya Idul Fitri 1 Syawal. Sejalan dengan sunnah Nabi, menentukan tanggal 1 dilakukan dengan pengamatan untuk memeriksa apakah sudah muncul bulan sabit (Hilal) untuk pertama kali saat matahari terbenam.

Saya kurang memahami, bagaimana tata-cara menentukan tanggal 1 Ramadhan dengan mengamati (merukyat) bulan, terutama pada masyarakat yang tradisional, yang masih memelihara hisap urfi. Kalau saya boleh menebak mungkin begini: Karena kalender urfi bisa meleset sampai 1 hari, periksa pada tanggal 28 Sya'ban kalender urfi apakah hilal sudah bisa terlihat, siapa tahu datangnya Ramadhan 1 hari lebih cepat. Kemudian pada tanggal 29 Sya'ban kalender urfi periksa apakah hilal sudah muncul. Bila hilal muncul besok maka sudah tanggal 1 Ramadhan. Sebaliknya bila hilal tidak terlihat atau tertutup awan, bulan Sya'ban dianggap 30 hari. Untuk menentukan 1 Syawal. Bila pada tanggal 29 Ramadhan hilal terlihat, besok adalah tanggal 1 Syawal. Bila hilal tidak terlihat atau tertutup awan, genapkan Ramadhan menjadi 30 hari.

Tahun Kabisat

Siklus sinodis rata-rata tidak tepat benar 29,5 hari, akan tetapi sebenarnya sedikit lebih lama. Siklus sinodis bulan rata-rata selama 29,530589 hari. Kalender urfi perlu dikoreksi dengan tahun kabisat. Bila tidak dikoreksi akan hanyut dalam kesalahan. Setelah puluhan tahun tanggal 1 akan jatuh pada bulan purnama! Tentu hal tersebut tidak benar. Agar hal itu tidak terjadi maka kita harus menyelenggarakan tahun kabisat. Tahun kabisat lebih lama 1 hari dari tahun biasa. Kelebihan 1 hari tadi ditambahkan pada bulan ke-12 Dzulhijah. Pada tahun biasa bulan Dzulhijah 29 hari, sedangkan pada tahun kabisat bulan Dzulhijah 30 hari. Lamanya satu tahun biasa 354 hari, sedang lamanya tahun kabisat 355 hari. Bulan kabisat dilasanakan 11 kali selama 30 tahun dengan pola tertentu misalnya pada tahun ke 2, 5, 7, 10, 13, 16, 18, 21, 24, 26, 29. Maksud diadakan tahun kabisat adalah agar sesuai dengan siklus sinodis rata-rata. Jadi siklus sinodis bulan menurut kalender urfi sebesar:

(354 + 11/30)/12 = 29,5306

Lihatlah angka tersebut sudah nyaris tepat dengan siklus sinodis bulan bukan?

Kalender urfi mempunyai aturan yang relatif sederhana, karena itu kita dengan "mudah" dapat menghisapnya. Misalnya kita bisa tahu tanggal berapa menurut kalender Gregorian tanggal 1 Ramadhan 1436H? Atau sebaliknya tanggal 17 Agustus 1945 itu tanggal berapa menurut kalender Hijriah? Menurut hisap urfi 1 Ramadhan 1436H jatuh pada tanggal 18 Juni 2015. Sedangkan tanggal 17 Agustus 1945 adalah 8-Ramadhan-1364H. Ternyata proklamasi kemerdekaan kita dikumandangkan pada bulan suci Ramadan. Tertarik dengan mengubah kalender Hijriah ke kalender Gregorian atau sebaliknya? Silahkan kunjungi laman saya.

Bagi masyarakat modern, penggunaan kalender yang tidak akurat tentu kurang sesuai. Bayangkan, ibu-ibu kita yang sudah masak habis-habisan: opor ayam, ketupat dan berbagai makanan lain untuk merayakan Idul Fitri besok. Ternyata malam ini hilal tak tampak di langit. Lebaran tidak jadi besok! Betapa kecewanya ibu-ibu ini. Untunglah kita hidup di zaman komputer digital sehingga dengan mudah kita bisa melakukan perhitungan yang lebih akurat, yakni hisap astronomi (hisap hakiki). Diharapkan kalender dengan hisap hakiki ini sangat akurat, keakuratannya mendekati 100%.

Saya jadi penasaran seberapa akurat sebenarnya hisap urfi ini? Saya coba bandingkan hisap urfi dengan hisap hakiki untuk kota Mekkah. Pada tahun 1421H terdapat 8 kesalahan yang ditandai dengan tanda + (lihat tabel di atas). Pada tahun 1422H terjadi 2 kesalahan. Saya telah mencoba sampai 5 tahun (sampai 1425H) total ada 21 kesalahan. Semua kesalahannya berselisih 1 hari. Karena setahun ada 12 bulan, maka akurasi rata-ratanya:

(5x12 - 21)/(5x12) = 39/60 = 65%

Maka didapat akurasi kalender urfi sebesar 65%. Tentu saja 'sampel' yang cuma 5 tahun ini kurang representatif, idealnya 'sampel'nya sampai seratus tahun lebih. Saya menebak keakuratan kalender urfi sebenarnya 75%. Entah benar atau tidak, namanya juga tebakan.

Kriteria Hilal Dapat Terlihat (Imkanu Rukyat)

Tanggal 1 jatuh bertepatan dengan terlihatnya hilal pertama sesaat setelah matahari tenggelam. Idealnya kita bisa membuat kalender yang dapat menghisap kapan hal tersebut terjadi (hisap hakiki). Untuk maksud tersebut kita perlu membuat kriteria bilamana hilal dapat dilihat (Imkanu Rukyat).

Hilal pertama ini sangat tipis jadi susah melihatnya. Penggunaan teleskop (teropong) akan sangat membantu. Kesempatan melihatnya juga tak lama, cuma beberapa puluh menit. Hal tersebut disebabkan, jarak hilal dan matahari dekat. Setelah matahari terbenam terlebih dahulu, tak lama kemudian, beberapa puluh menit berlalu bulan akan menyusul tenggelam. Hilal susah dilihat, itulah sebabnya jarang ada orang pernah melihat hilal. Sayapun belum pernah melihatnya, bulan sabit paling muda yang pernah saya lihat pas tanggal 2. Bagaimana dengan anda? Pernahkah anda melihat bayi bulan yang baru lahir ini? Bila anda pernah melihatnya, anda termasuk orang yang mujur.

Kalau anda ingin melihat hilal, anda harus memilih tempat di mana anda dapat memandang horizon (cakrawala/ ufuk). Tempat yang ideal adalah di tepi pantai di mana anda dapat melihat matahari terbenam (sunset). Setelah matahari terbenam, pandanglah horizon di arah matahari tenggelam. Hilal bisa ada di sebelah kiri atau kanannya arah matahari tenggelam. Semoga langit cerah dan anda beruntung dapat melihat hilal.

Baiklah, sekarang saya akan membahas bagian yang paling penting dalam tulisan ini, yakni kriteria hilal dapat terlihat atau dalam bahasa Arab disebut Imkanu Rukyat. Hal ini akan membuat otak kita bekerja keras, jadi ambil napas sejenak sebelum melanjutkan.... Sekarang mulailah simak baik-baik: Bulan sabit akan tampak semakin tebal kalau jarak matahari-bulan semakin besar. Jarak bulan matahari ini kita sebut sudut elongasi atau separasi. Saat Ijtimak (konjungsi) sudut elongasi mencapai harga terkecil. Pada kejadian tersebut, matahari-bulan terlihat ketemuan di langit. Bulan baru "dilahirkan" saat Ijtimak. Umur bulan adalah berapa lama terhitung sejak Ijtimak.

Hilal tidak akan terlihat saat matahari terbenam kalau umurnya masih muda. Orang Babylonia ribuan tahun yang lalu percaya hilal baru bisa dilihat kalau umurnya sudah 24 jam. Ini disebut kriteria Babylonia. Sudut elongasi berbanding lurus dengan umur bulan. Sudut elongasi bertambah sekitar 12°/perhari. Jadi saat umur bulan 24 jam sudut elongasinya kira-kira 12°.

Kalau sudut elongasinya kecil bulan terlihat sabit. Bulan separuh sudut elongasinya 90°. Karena itu bulan separuh terlihat di atas kepala ketika matahari dalam posisi horisontal (terbenam) . Bulan purnama sudut elongasinya 180° atau saling bertolak belakang dengan matahari (beroposisi). Coba perhatikan saat bulan purnama, ketika matahari terbenam bulan purnama terbit. Dalam satu bulan (29,5 hari) sudut elogasi telah sejauh 360°. Atau setiap harinya sudut elongasi akan bertambah sebesar:

360°/29,5 hari = 12,2°/hari

Sudut elongasi berhubungan langsung dengan lebar sabit, menurut rumus berikut:

w = R[1-cos(el)]
w= 0,5.D[1-cos(el)]......Rumus(1)

di mana

w = lebar sabit.
el = elongasi
R = Jari-jari bulan = 0,5.D
D = diameter angular bulan = antara 29,2' sampai 34,1'

Penjelasan dari rumus di atas lihat gambar berikut:


Sudut elongasi

Semakin kecil sudut elongasi, hilal akan semakin tipis. Hal tersebut membuat kita bertanya-tanya berapakah sudut elongasi minimal agar hilal dapat dilihat? Menurut tuan Danjon, seorang astronom Perancis, elongasi minimal 7° agar bulan hilal dapat dilihat. Elongasi minimal 7° disebut limit Danjon. Bulan sabit dengan limit Danjon ternyata sangat tipis, setipis silet, penampakannya seperti gambar di atas. Anda dapat mengubah sudut elongasi. Cobalah untuk sudut elongasi lain, misalnya: elongasi= 12° atau elongasi= 25°. Ketiklah sudut elongasi pada textbox di atas kemudian click tombol gambar. Komputer akan menggambar bulan dengan sudut elongasi yang dimaksud.

Hilal dengan limit Danjon (elongasi =7°) sulit dilihat. Anda tidak percaya? Buktikan sendiri! Bulan terlihat di bumi kira-kira sejauh 100 kali diameternya. Gambar diameter bulan pada layar komputer saya 9 cm. Supaya seakan-akan melihat hilal dari bumi saya harus melihatnya 9 cm x 100 = 9 Meter. Saya mencoba menjauh dari layar komputer saya. Saya kesulitan melihat "hilal komputer" pada jarak 5 meter (apalagi 9 meter). Coba ukur diameter hilal yang tampak pada layar komputer anda, kemudian lihat hilal tersebut pada jarak 100 kali diameter.

Elongasi setidaknya 7° merupakan syarat perlu agar kita dapat mengamati hilal. Tetapi itu belum cukup, beda ketinggian harus besar agar hilal cukup kontras dengan cahaya langit. Sekalipun matahari sudah di bawah ufuk, langit masih terang (akibat fenomena pembiasan cahaya). Langit baru benar-benar gelap setelah matahari 18° di bawah ufuk. Jadi kalau beda tinggi terlalu kecil, hilal tidak dapat terlihat, karena terlalu silau oleh cahaya langit.

LAPAN (Lembaga Antariksa Nasional) atau tepatnya Prof. Dr. Thomas Jamaluddin memberikan kriteria imkanu rukyat menggunakan parameter elongasi dan beda tinggi.

Kriteria imkanu rukyat menurut LAPAN adalah Elongasi minimal 6,4° dan beda tinggi 4°

Pada zaman modern ini kita dapat menghisap posisi bulan dan posisi matahari dengan sangat akurat. Contohnya kita dapat menghisap kapan terjadinya gerhana matahari. Demikian pula kita bisa menghisap elongasi dan beda tinggi bulan-matahari dengan akurat. Kalau kita punya ratusan (kalau perlu ribuan) data empiris dari pengamatan hilal yang sebenarnya di seluruh dunia, maka kita bisa membuat kriteria sedemikan hingga cocok dengan data empiris tersebut. Dengan cara demikan kita bisa mendapatkan kriteria yang dapat diandalkan. Itulah yang coba dilakukan oleh Mohamad Odeh dari kerajaan Yordania. Beliau telah mengumpulkan data empiris lebih dari 700 buah data pengamatan hilal di seluruh dunia.

Odeh tidak menggunakan sudut elongasi sebagai kriteria, melainkan langsung menggunakan lebar sabit w. Bulan kalau dilihat di bumi tidak selalu sama besar, karena jarak bumi-bulan tidak selalu sama. Jarak terjauhnya disebut Apogee dan jarak terdekatnya disebut Perigee. Tentu hilal lebih sulit dilihat kalau bulan terlihat lebih kecil. Oleh sebab demikian, menurut Odeh, lebih tepat menggunakan kriteria lebar sabit dari pada sudut elongasi. Gunakan rumus (1) untuk menghitung lebar sabit. Odeh juga membedakan beberapa kriteria:

  1. Hilal yang hanya dapat dilihat dengan teropong, beda tinggi minimum ARCV1
  2. Hilal yang dapat dilihat dengan teropong, tapi masih bisa dilihat dengan mata telanjang, beda tinggi minimum ARCV2
  3. Hilal yang mudah dilihat dengan mata telanjang, beda tinggi minimum ARCV3

Odeh menamakan beda tinggi sebagai ARCV (arc of vision). Berikut ini kriteria Mohammad Odeh untuk menampakan hilal:

w 0.1' 0.2' 0,3' 0.4' 0.5' 0,6' 0,7' 0,8' 0,9'
ARC1 5,6 5,0 4,4 3,8 3,2 2,7 2,1 1,6 1
ARC2 8,5 7,9 7,3 6,7 6,2 5,6 5,1 4,5 4,0
ARC3 12,2 11,6 11,0 10,4 9,8 9,3 8,7 8,2 7,6

Ternyata bulan tidak terlihat selalu sama besar. Bulan terlihat paling besar saat jaraknya terdekat (perigee) dan bulan terlihat paling kecil saat jaraknya terjauh (apogee). Tentu hilal lebih sulit dilihat kalau bulannya tampak lebih kecil. Karena itu menurut Odeh kriteria yang tepat untuk hilal terlihat adalah lebar sabit w. kredit www.langitselatan.com

Untuk anda ketahui, selain kriteria Imkanu Rukyat ada juga mazhab yang percaya, untuk menentukan bergulirnya bulan baru, tidak perlu melihat hilal pertama. Menurut mazhab ini, perintah melihat hilal harus dipandang secara kontekstual bukan secara tekstual. Dalam konteks masyarakat zaman dahulu, di zaman hadist ditulis, di mana belum berkembang ilmu hisap, satu-satunya alat untuk menentukan dimulainya bulan baru adalah penampakan hilal pertama. Akan tetapi dipandang dari konteks kekinian di mana ilmu hisap dan komputer sudah demikan maju, bergulirnya bulan baru tidak lagi harus melihat hilal pertama. Kita dapat menghisap dengan amat teliti kapan terjadi Ijtimak Bulan baru terhitung setelah terjadi Ijtimak, saat itu hilal mulai terwujud. Kriteria ini biasa disebut wujudul hilal. Dengan kriteria tersebut memungkinkan bulan baru sudah bergulir meskipun bulan baru berumur 1 menit! (pastinya, hilal belum dapat diamati, karena masih terlalu muda). Di Indonesia ormas Islam yang menganut wujudul hilal adalah Muhammadiyah. Maka tak mengherankan bila tanggal 1 menurut Muhammadiyah bisa lebih cepat 1 hari.

Kriteria wujudul hilal seperti yang dianut Muhammadiyah mungkin ada benarnya juga. Mengingat cakupan terlihatnya hilal pertama tidak meliputi seluruh dunia. Di daerah lintang tinggi kadang-kadang hilal baru terlihat setelah bulan berumur beberapa hari. Bahkan di daerah kutub hilal tak mungkin terlihat ketika matahari tak pernah tenggelam. Pada tengah malam, matahari mencapai titik terendah tetapi tidak pernah tenggelam. Kita akan kesulitan melihat hilal di daerah lintang tinggi seperti di Kanada, Greenland, Finlandia, Norwegia, Swedia, Rusia, Alaska dan Islandia. Jadi di negara semacam ini tidak cocok untuk menerapkan kriteria melihat hilal pertama. Untuk negara-negara tesebut kriteria wujudul hilal seperti yang dipakai Muhammadiyah mungkin dapat diterapkan. Kita tahu umat Muslim sudah menyebar ke mana-mana. Saya pernah membaca di internet, ada orang Islam Indonesia yang merantau ke Finlandia, negara produsen ponsel Nokia dan tempat ditandatanganinya perjanjian damai RI-GAM.

Bersambung... Pembahasan selanjutnya: Kalender Hijriah Internasional


Komentar:

fauzan(2016-06-14 15:58:47)

luar biasa tulisannya, izin copas untuk dipelajari

Arif Lewisape(2016-02-20 13:43:11)

Pemahaman atas Qur'an dan Hadits tanpa ilmu, mungkin kurang sreg. Tulisan yang tersaji justru memberi kepuasan atas sains Al Qur'an

msydin(2015-11-08 00:39:42)

kenapa sih ribet amat. mari kita kembangkan astronomi untuk kepentingan dunia. untuk ibadah cukup patokannya quran dan hadits seperti zaman Rasulullah. Allah belum mengatakan sempurna thd ilmu pengetahuan tetapi quran telah Beliau katakan sempurana dan Islam sebagai agama kita.


Silahkan tulis komentar anda: