KALENDER BULAN (Bagian - 1)

Bulan, oh Bulan

Perayaan hari besar agama Islam sangat terkait dengan penampakan bulan, misalnya awal dari hari raya Idul Fitri yang jatuh pada tanggal 1 Syawal. Pergantian bulan ditandai dengan munculnya bulan sabit (hilal) saat matahari terbenam di ufuk barat. Jatuhnya pergantian bulan kadang-kadang tidak serempak antara kelompok satu dengan yang lain. Walaupun tidak menimbulkan masalah yang besar, tapi setidaknya timbul keresahan masyarakat, terutama saat kapan penentuan awal puasa (1 Ramadhan) dan saat Idul Fitri (1 Syawal).

Ini akibat hilal, bulan sabit atau bayi bulan atau 'crescent moon', tampak tipis sekali, saking tipisnya menjadi susah dilihat. Hilal muncul cuma sebentar saja yakni sesudah matahari tenggelam, dan setelah itu hilal akan lenyap tenggelam di ufuk barat. Cuaca berawan, polusi cahaya, dapat pula menjadi penghalang bagi kita untuk melihat hilal. Kalau kita punya teropong, maka akan sangat membantu kita melihat hilal. Inilah sebenarnya titik persoalannya, hilal yang susah dilihat ini menimbulkan keraguan, sudah muncul ataukah belum muncul hilal pada petang ini?? (baca: sekarang sudah tanggal 1 belum ya??). Jadi sangatlah wajar kalau terjadi perbedaan antara kelompok masyarakat tentang kapan terjadinya pergantian bulan. Apakah anda sendiri pernah melihat hilal tanggal 1? Saya harus berterus terang, seumur hidup belum pernah melihatnya. Bulan yang paling muda yang pernah saya lihat pas tanggal 2.


Hilal terlihat sangat tipis di langit (Credit:www.islamicmoon.com)

Di zaman komputer digital dewasa ini, kita sebenarnya dapat menentukan posisi bulan dengan sangat akurat. Misalnya komputer bisa menghitung (meng'hisap') dengan sangat tepat kapan dan di mana bakal terjadi gerhana matahari total. Hebat bukan? Jika kita dapat menghitung posisi bulan (juga matahari) dengan sangat akurat, maka artinya kita bisa menghitung kapan jatuhnya tanggal 1 dengan tepat. Kalau segalanya dapat dihitung dengan akurat, mengapa masih bisa terjadi perbedaan?! Jawabannya ialah karena adanya perbedaan kriteria jatuhnya tanggal 1 antar organisasi Islam di Indonesia. Kalau kita ingin menghilangkan perbedaaan jalan satu-satunya adalah menyamakan kriteria tsb.

Bukan Hanya Masalah Umat Islam

Banyak orang yang tidak tahu, bahwa hari perayaan yang terkait dengan penampakan bulan bukanlah monopoli kaum Muslim. Agama Kristen, Yahudi, etnis China dan lain-lain juga mengkaitkan hari raya mereka dengan penampakan bulan (sekalipun para penganutnya sendiri tidak menyadarinya!). Contohnya tahun baru China (Imlek) terjadi pada bulan baru di awal musim semi. Coba saja tanya pada etnis China (di Indonesia) tentang apakah tahun baru. Kebanyakan dari mereka menceritakan tentang membagi-bagikan angpaw (amplop merah yang ada uangnya), sembahyang, makan-makan, baju baru, bersilaturahmi dengan sanak famili. Jarang yang bercerita bahwa tahun baru adalah tentang bulan baru di awal musim semi! Banyak juga di antara mereka yang menjawab dengan betul (walau kurang tepat!), "tahun baru itu awal musim semi!" Saya pernah bertemu orang China-Kristen yang mengatakan tahun baru itu pas bulan Purnama! Kalau bulan purnama sih bukan tahun baru teman! Itu namanya perayaan Cap GO Meh. Tanggal 15 kan pas bulan purnama (cap go = 15).

Aneh memang, ada orang China di Indonesia yang tidak mengenal Imlek dengan baik. Mungkin karena banyak orang China di Indonesia yang sudah meninggalkan agama nenek moyangnya, sebagai gantinya mereka memeluk agama Kristen ataupun Islam. Dengan iman yang baru ini, mereka tidak lagi menjalankan ritual yang biasa mereka jalankan saat tahun baru Imlek. Sebab lainnya barangkali karena semasa pemerintahan Soeharto (presiden Indonesia ke-2) yang berkuasa 32 tahun, perayaan Imlek secara terbuka dilarang, bahkan penggunaan bahasa Chinapun dilarang. Untunglah saat pemerintahan presiden Gus Dur, larangan yang aneh itu dicabut. Malah sekarang hari raya Imlek merupakan libur nasional.

Umat Kristen terutama kaum Protestan setali tiga uang dengan etnis China. Mereka tidak menyadari bahwa hari raya Paskah untuk memperingati kebangkitan Yesus Kristus (Nabi Isa) dari kematian, ada kaitannya dengan penampakan bulan di langit. Untungnya umat Katolik lebih peduli tentang hal demikian. Kenapa umat Kristen Katolik lebih peduli dengan hari raya keagamaan? Saya juga tidak mengerti. Mungkin mereka sangat dekat dengan liturgi (upacara keagamaan) dalam tata ibadah mereka. Yesus ditangkap untuk dihukum mati, bertepatan dengan hari raya Paskah orang Yahudi. Hari raya Paskah adalah hari kemerdekaan dari perbudakan selama 430 tahun di Mesir (zaman raja Firaun dan Nabi Musa). Jadi esensi hari raya Paskah orang Kristen tidak sama dengan hari raya Paskah orang Yahudi. Orang Yahudi memperingati kemerdekaan dari perbudakan, sedangkan Paskah orang Kristen untuk memperingati kebangkitan Isa Almasih (Yesus Kristus) dari kematian. Memang Isa (yang orang Yahudi itu) baru saja merayakan Paskah bersama murid-muridnya, kemudian Isa ditangkap untuk disalibkan (dihukum mati) oleh pemerintah Romawi. Singkatnya Isa ditangkap pada hari raya Paskah. Ternyata hari raya Paskah itu jatuh pada bulan purnama musim semi(equinox). Ini buktinya, dari kitab Torat Musa:

Lalu berkatalah Musa kepada bangsa itu: "Peringatilah hari ini, sebab pada hari ini kamu keluar dari Mesir, dari tanah perbudakan, karena dengan kekuatan tanganNya TUHAN telah membawa kamu keluar dari sana, janganlah makan roti yang beragi. Hari ini kamu keluar, dalam bulan Abib( Aviv) (Keluaran 13:3-4).

TUHAN berfirman kepada Musa di padang gurun Sinai, pada bulan yang pertama tahun yang kedua sesudah mereka keluar dari tanah Mesir: Orang Israel harus merayakan Paskah pada waktunya; pada hari yang keempat belas bulan ini, pada waktu senja, haruslah kamu merayakannya pada waktu yang ditetapkan, menurut segala ketetapan dan peraturannya haruslah kamu merayakannya." (Bilangan 19:1-3).

Bulan Aviv itu bulan pertama pada kalender Yahudi, bulan Aviv jatuh pada tahun baru. Aviv artinya bulir jelai (barley) yang baru bernas. Bulir jelai ini masih hijau, masih lembek, belum menguning karena bulir jelai itu masih muda (baru bernas). Jelai adalah tanaman padi-padian, tepung jelai dapat dibuat roti. Bulir jelai saat Aviv belum bisa dipanen, perlu waktu 2-3 minggu agar jelai masak kekuningan dan siap dipanen. Bila pada akhir tahun, bulan ke 12 (bulan Adar), tanaman jelai belum bernas, maka tahun tersebut perlu diperpanjang menjadi 13 bulan (bulan Adar ke 2). Tahun yang lebih panjang dari tahun normal ini disebut tahun kabisat. Dengan kata lain belum bisa disebut tahun baru bila jelai belum bernas. Ibukota Israel sekarang Tel Aviv, yang artinya bukit Aviv. Kini, bulan Aviv itu sama dengan bulan Nisan. Nama Nisan mulai digunakan sejak pembuangan bangsa Israel ke Babel (Ester 3:7). Perayaan Paskah pada bulan Aviv terus-menerus dirayakan bangsa Israel, dari zaman nabi Musa, nabi Isa sampai masa kini di zaman internet.

Jelaslah kini! Bulan Aviv itu jatuh saat jelai mulai bernas. Ternyata kapan jelai mulai bernas tergantung di mana jelai itu ditanam. Kapan waktu jelai mulai bernas saatnya berbeda, tergantung apakah ia ditanam di Australia, atau di Israel. Musim di Australia datangnya terbalik dengan di Israel. Kalau di Israel sedang musim dingin di Australia malahan musim panas. Jadi kapan bulan Aviv itu? Tentu yang paling masuk akal adalah waktu gandum bernas di Israel karena ayat tersebut diturunkan untuk umat Israel. Bulan Aviv dianggap jatuh pada equinox musim semi (bulan Maret) di Israel. Sebagai perbandingan: di Australia jelai mulai bernas pada bulan Oktober. Sekalipun tidak ada satupun ayat di kitab suci yang mengatakan bulan Aviv itu Equinox musim semi, saya harap kiranya penjelasan ini dapat diterima

Betul kan kata saya! Hari raya Paskah orang Yahudi itu jatuh pada purnama musim semi, tanggal 14 kan bulan punama. Ketika dijelaskan demikian kepada seorang pendeta, sang pendeta malah mentertawakan saya: "Emangnya kalender Yahudi itu loe kira kalender Jawa, yang tanggal 14 nya bulan purnama!". Ini serius, bukan bercanda, pembaca! Rupanya kebanyakan pendeta hanya paham masalah 'theology', tapi kurang paham masalah astronomi. Gereja merayakan Paskah seturut yang ditulis di kalender tanpa mengerti kaitannya dengan peristiwa astronomi yang tertulis di kitab suci. Mereka tidak faham bahwa: kalender Yahudi, China, Islam, Jawa, Batak dan lain-lain tanggalnya berdasarkan penampakan dari fase bulan.

Untuk anda ketahui, penggagas kalender Masehi (Gregorian), Paus Gregorius, pemimpin umat Katolik saat itu, menciptakan kalender Gregorian agar umat Katolik saat itu dapat merayakan Paskah tepat waktu. Maklumlah, hari raya Paskah bagi umat Kristiani adalah hari raya paling penting untuk mengenang wafatnya Isa. Hari raya Paskah merupakan kunci untuk merayakan hari raya lainnya. Hari raya Jum'at Agung 2 hari sebelum Paskah. Hari kenaikan Isa ke sorga, 39 hari setelah Paskah. Hari raya Pantekosta jatuh 49 hari setelah Paskah. Jadi sebenarnya hari raya Kristen itu tercatat tanggalnya dengan baik di Injil, kecuali hari raya Natal tanggal 25 Desember yang tidak jelas hukumnya.

Gereja merayakan Paskah berpatokan pada equinox yang jatuh pada tanggal 21 Maret kalender Julian seturut dengan Consili Nicea (tahun 325). Rupanya kalender Julian itu setelah ribuan tahun menjadi ngawur. Equnox tidak pada tanggal 21 Maret lagi. Saat itu (tahun 1582) orang mengharapkan equinox jatuh pada 21 Maret. Hal itu tidak terjadi. Equinox datang pada tanggal 11 Maret! Ketika itu sang Paus segera bertindak mengeluarkan dekrit untuk menghilangkan 10 hari yang salah tersebut dan menciptakan aturan kabisat agar ke depannya tidak terjadi kesalahan serupa. Sampai sekarang kalender Gregorian menjadi kalender yang paling banyak digunakan di seluruh dunia. Kalender itu bernama Gregorian, padahal sebenarnya kalender tersebut warisan kekaisaran Roma (Julius Caesar). Sang Paus "cuma" memperbaiki sistem perhitungan kabisat. Menariknya, sang Paus mempunyai otoritas yang bisa menerbitkan dekrit, dan ditaati oleh Gereja saat itu. Tentu hal tersebut baik, asal jangan buat kebijakan 'nyeleneh' yang membodohi umat semacam menjual surat pengampunan dosa seperti dahulu kala. Ada juga gereja yang tidak mentaati dekrit sang Paus, yakni gereja orthodoks! Jadi sebenarnya gereja ortodoks merayakan Paskah pada tanggal yang "salah" karena tidak mentaati dekrit sang Paus (demi gengsi kelompok?). Tapi ya sudahlah, yang penting makna peringatannya, bukan tanggalnya bukan?

Dari tulisan ini, dapat disimpulkan bahwa sebenarnya umat Muslim mempunyai masalah yang sama dan sebangun dengan "tetangga sebelah": Menentukan kalender berdasarkan bulan. Bagaimana mereka melakukannya? Mari diam-diam kita intip dalam tulisan yang lain.

Akhir kata kalau ada tulisan saya yang salah menurut anda, mohon koreksi melalui fasilitas komentar.


Jadilah orang yang pertama mengirim komentar