Geosentris versus Heliosentris (Bagian - 1)

Keliru Pertama

Pada waktu saya duduk di bangku SMA, guru Geografi saya bercerita bahwa bumi beserta planet-planet bergerak mengelilingi matahari, padahal nenek moyang kita percaya bumi diam tidak bergerak, benda-benda langit lainlah yang mengelilingi bumi. Ribuan tahun umat manusia hidup dalam kebodohan menganggap bumi sebagai pusat alam semesta! Mendengar cerita guru saya itu, murid-murid tertawa terbahak-bahak mentertawakan "kebodohan" nenek moyang mereka.

Sesungguhnya guru SMA saya itu salah! Tidak benar orang zaman dahulu hidup dalam kebodohan. Orang zaman dahulu sudah memiliki pengetahuan astronomi yang mengagumkan!! Mengenai pengetahuan astronomi nenek moyang kita nanti akan saya bahas pada bagian akhir artikel ini. Kita semua percaya bumi bergerak mengelilingi matahari (heliocentris) sebenarnya karena sejak kecil, sejak kita SD sampai SMA kita sudah dicekoki oleh guru kita bahwa bumi bergerak mengelilingi matahari. Tapi apakah benar demikian?? Sesungguhnya susah sekali untuk membuktikan bahwa bumi kita mengelilingi matahari. Tak seorangpun pernah melihat dengan mata kepala sendiri: naik pesawat ruang angkasa, melihat dari tempat yang jauh untuk membuktikannya. Dalam hal ini guru saya keliru menyangka nenek moyang kita "bodoh". Fakta yang telihat dengan mata: semua benda langit mengelilingi bumi (geocentris). Perlu usaha yang amat besar untuk menyangkal hal tersebut. Membuktikan bumi kita bergerak mengelilingi matahari sebenarnya hampir tak mungkin. Sesungguhnya baru 200 tahun yang lalu anak-anak kita diajari bahwa bumi bergerak mengelilingi matahari . Kalau kita percaya kalender Yahudi bahwa Adam dan Hawa hidup 6000 tahun yang lalu, maka selama 5800 (lima ribu delapan ratus tahun) manusia percaya bumi diam dan benda langit lain bergerak mengelilingi bumi, sebelum akhirnya datang "agama" baru 200 tahun yang lalu. Agama baru ini menyangkal teori bumi yang super narsis itu! Catatan: teori heliocentris pertama diusulkan oleh Copernikus pada abad ke 15 tetapi kebenaran teori itu baru dapat dibuktikan oleh pada abad ke 18 oleh James Bradley sehubungan fenomena aberasi bintang.

Keliru Kedua

Galileo dikucilkan oleh Gereja gara-gara menyebarkan teori Heliocentris yang berlawanan dengan Alkitab (Injil). Padahal kini terbukti secara ilmiah teori heliocentris itu benar! Maka ada orang-orang yang berpendapat cukup ekstrim: Injil dipastikan kitab sesat karena bertentangan dengan ilmu pengetahuan. Ada pula kelompok ekstrim lain yang berseberangan dengan ekstrim pertama: Alkitab merupakan wahyu Allah pencipta langit dan bumi, karena itu tidak mungkin salah. "Teori geosentris" di dalam Alkitab mutlak yang benar. Dengan sendirinya teori heliocentris yang diajarkan pada anak-anak di sekolah masa kini mutlak sesat! Demikian kaum ekstrim ini berpendapat.

Sampai dewasa ini masih ada orang yang beranggapan bumi diam tidak berotasi dan benda-benda langit bergerak mengelilingi bumi (geocentris). Mereka percaya berdasarkan ayat-ayat Alkitab yang merupakan kebenaran mutlak. Contoh ayat-ayat Alkitab yang "mendukung" Geocentris :

Pengkhotbah (kitab Nabi Sulaiman bin Daud) 1:5.

Matahari terbit, matahari terbenam, lalu terburu-buru menuju tempat ia terbit kembali.

Mazmur (Zabur nabi Daud) 19:6

dari ujung langit ia terbit, dan ia beredar sampai ke ujung yang lain; tidak ada yang terlindung dari panas sinarnya.

Mazmur (Zabur nabi Daud) 93:1

TUHAN adalah Raja, Ia berpakaian kemegahan, TUHAN berpakaian, berikat pinggang kekuatan. Sungguh, telah tegak dunia, tidak bergoyang.

Sekali lagi kelompok ekstrim ini keliru! Ini hanyalah kekeliruan penafsiran. Kitab Suci bukanlah buku sain, melainkan wahyu Ilahi. Wahyu haruslah dipahami oleh umat yang pertama kali membaca kita suci tersebut (juga oleh generasi selanjutnya). Ayat-ayat di atas adalah puisi yang memuji kebesaran Allah. Ayat tersebut haruslah dipahami oleh umat yang hidup 3000 tahun yang lalu (zaman Nabi Daud). Tentu harus pakai "teori geocentris" agar mereka paham apa yang disampaikan. Pastinya orang-orang yang hidup pada 3000 tahun yang lalu akan bingung tujuh keliling bila ayat di atas ditulis dengan gaya heliocentris: "Bumipun berputar, tampaklah di ufuk timur matahari, bumi terus berputar sampai 180°, tampaklah matahari tengah menghilang di ufuk barat, bumi berputar lagi 180°, mataharipun muncul kembali ". Jadi tidak ada yang salah dengan Alkitab. Cuma penafsiran mereka saja yang salah.

Karena kitab suci agama-agama di dunia diturunkan pada zaman kejayaan geocentris, maka semua kitab suci agama-agama di dunia, "berfaham geocentris". Tidak mengherankan kalau ada ayat-ayat kitab suci agama-agama lain yang paralel dengan petikan ayat Alkitab di atas. Sampai saat ini, saya belum pernah mendengar ada ayat kitab suci secara literal / eksplisit dari agama apapun yang menerangkan teori heliocentris. Sampai hari ini masih ada kelompok super minoritas pendukukung fanatik Geocentris. Keyakinan mereka berpegang pada "kebenaran" kitab suci. Kelompok super minoritas ini ada pada umat Islam (berpegang pada Al Quran), ada pula pada umat Yahudi dan Kristen (berpegang pada Alkitab), mungkin juga ada pada agama lain. Menurut hemat saya, kelompok super minoritas tersebut telah salah menafsirkan kitab suci mereka. Mereka menafsirkan kitab, terlalu tekstual dan tidak kontekstual. Ada catatan menarik, pada Al Quran tertulis ayat yang dapat ditafsirkan "kode rahasia" yang mengungkap teori heliocentris tapi tentu tidak literal /eksplisit.

Al Quran (An Naml:88)
Dan kamu lihat gunung-gunung itu, kamu sangka dia tetap di tempatnya, padahal ia berjalan sebagai jalannya awan. (Begitulah) perbuatan Allah yang membuat dengan kokoh tiap-tiap sesuatu; sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.

Seharusnya tidak perlu ada Geocentrisme-Islam, seandainya mereka dapat memahami pesan tersirat dalam surat An Naml:88. Rupanya bagi mereka surat tersebut masih merupakan kode rahasia.

Tentu dapat kita maklumi, pada abad ke-15 Gereja dibuat heboh oleh teori heliocentris yang dicetuskan oleh Copernikus. Para pengikut Copernikus dituduh penyesat oleh Gereja. Ajaran Copernikus dianggap menodai kesucian Alkitab. Bagaimana tidak, teori heliocentris menyangkal apa yang diyakini oleh umat manusia (bukan hanya Kristen) selama ribuan tahun. Galileo sebagai ilmuwan pengikut teori heliocentris dikucilkan dalam tahanan rumah oleh Gereja. Salahkah Gereja dengan sikapnya yang demikian?? Sesungguhnya sikap Gereja sudah benar! Gereja harus tegas dalam menegakkan kebenaran. Kalau Galileo dapat membuktikan teori heliocentris dengan memuaskan, tentunya Gereja akan menerima teori tersebut. Nyatanya pada zaman Galileo bukti teori heliocentris belum cukup. Tentu kita tidak boleh mempercayai sesuatu berdasarkan dugaan (angan-angan) belaka. Pada waktu itu, kita tidak boleh menganggap heliocentris sebagai kebenaran. Dalam hal ini sikap Gereja sudah benar!! Hanya saja sikap keras terhadap Galileo perlu dikoreksi. Seharusnya Gereja yang menganut teori "kasihilah musuhmu", sehingga tidak represif terhadap Galileo. Walaupun Galileo diperlakukan dengan baik dalam tahanan rumah dan ia tidak meninggalkan iman Katoliknya sampai akhir hayatnya, namun mengekang seseorang hanya karena ia bersebrangan pendapat dengan kita tidak boleh dibenarkan.

Teori heliocentris baru dapat dibuktikan 200 tahun setelah Galileo. James Bradley tahun 1729 menemukan fenomena aberasi bintang yang dapat membuktikan Teori Heliocentris. Kemudian Friedrich Bessel dapat mengamati paralax bintang tahun 1838.

Sayangnya sikap Gereja pada masa kini tidak konsisten. Zaman dahulu Gereja dapat bersikap tegas dalam menegakkan kebenaran, kenapa Gereja masa kini malahan lembek? Contohnya dalam menyikapi teori evolusi. Menurut para penganut evolusi manusia bukan keturunan Adam dan Hawa, tapi keturunan "monyet". Tentu saja teori evolusi ini menistakan kitab suci. Sampai sekarang saya menggangap teori evolusi biologi cuma angan-angan belaka, bukan kebenaran!. Hal tersebut disebabkan sampai sekarang belum ditemukan "missing link" yang membuktikan kebenaran teori evolusi. Kalau para 'evolusionist' itu dapat membuktikan kebenaran teori mereka, bolehlah saya "menafsir ulang" kitab suci. Saya bahkan curiga teori evolusi itu karangan setan, buktinya sudah ratusan tahun umur teori evolusi "missing link" itu tak kunjung ditemukan!

Selayang-pandang Sejarah Kosmologi

Pada zaman dahulu orang percaya bumi sebagai pusat alam semesta, sedang benda-benda langit lain bergerak mengelilingi bumi. Paham ini disebut Geosentrisme (berpusat pada bumi). Paham Heliocentris (berpusat pada matahari) yang kita anut sekarang baru muncul pada abad ke-15 dipelopori oleh Copernicus(1473 - 1543). Menarik untuk disimak apa dan bagaimana alam pikiran Geocentris. Untuk itu silahkan simak tulisan selanjutnya.

Zaman Yunani kuno

Pada Zaman dahulu orang Babylonia sangat gemar dengan Astronomi. Babylonia, negeri leluhur nabi Ibrabim, sekarang terletak di negara Irak. Pengaruh Astronomi Babylonia menyebar ke seluruh dunia, di antaranya ke Yunani. Pengaruh astronomi Baylonia masih bertahan sampai sekarang, misalnya: satu hari dibagi menjadi 24 jam, satu lingkaran terdiri dari 360° dan 12 tanda Zodiak merupakan contoh warisan astronomi Babylonia.

Ilmu Astronomi yang berasal dari Babylonia sangat dikembangkan di Yunani. Aristoles (384 SM - 322 SM) seorang filsuf Yunani mengajarkan alam semesta (kosmos) adalah sebagai berikut: Bumi tempat tinggal kita adalah pusat alam semesta. Bumi berbentuk bulat seperti seperti bola. Bumi terapung di pusat bola langit di mana bintang-bintang terpaku pada bola langit. Bintang-bintang tampak bergerak karena bola langit berputar dengan kecepatan tetap. Bumi di pusat bola langit karena disangga oleh "tiang gaib", dan "tangan malaikat" yang menjaga agar bola langit itu tetap berputar. Keyakinan orang pada zaman dahulu, bertentangan dengan keyakinan kita di zaman modern. Kita sekarang percaya bintang-bintang tampak beredar karena bumi berputar.

Benda-benda langit lain seperti matahari, bulan dan planet tampak bergerak relatif terhadap bintang-bintang. Karena itu Aristoteles berteori alam semesta terdiri dari bola berlapis-lapis seperti bawang. Bola terbuat dari semacam kristal tembus pandang dan benda langit terpaku pada bola tersebut. Setiap bola kristal tersebut bergerak dengan caranya sendiri. Urutan lapisan bola langit mulai dari yang terdalam(terdekat) sampai yang terluar (terjauh)

  1. Bola yang menggerakkan Bulan
  2. Bola yang mengerakkan planet Merkurius
  3. Bola yang mengerakkan planet Venus
  4. Bola yang menggerakkan Matahari
  5. Bola yang menggerakkan planet Mars
  6. Bola yang menggerakkan planet Yupiter
  7. Bola yang mengerakkan planet Saturnus
  8. Bola yang menggerakkan bintang-bintang

bola-langit

Urutan-urutan tersebut diperoleh berdasarkan tebakan saja, yaitu berdasarkan periode dari bola tersebut berputar. Makin pendek periodenya makin dekat dengan bumi. Bulan mempunyai periode 27 hari, matahari mempunyai periode 1 tahun.

Aristoteles percaya gerakan benda langit diakibatkan oleh berputarnya bola-kristal ini dengan kecepatan tetap. Hal itu dapat kita lihat pada bintang-bintang yang bergerak mengelilingi bumi dengan kecepatan tetap. Kalau bintang terlihat bergerak dengan kecepatan tetap bagaimana dengan benda langit lain?

Kalau diteliti, sekalipun pergerakan matahari terlihat berupa gerak melingkar sederhana, namun ternyata kecepatannya tidak tetap! Hal tersebut sudah diketahui sejak zaman Babylonia. Salah satu akibat dari kecepatan matahari yang tidak tetap adalah jarak dari musim ke musim tidak sama. Dari musim semi (vernal equinox) ke musim panas (summer solistice) 93 hari. Dari musim panas ke musim gugur (autumnal equinox) 93 hari. Dari musim gugur ke musim dingin (winter solistice) 90 hari. Dari musim dingin ke musim semi 89 hari. Kalau matahari bergerak dengan kecepatan tetap tentu jarak dari musim ke musim sama.

bidang_ekliptik

Lintasan matahari pada bidang ekliptik di bola langit

Hipparchus (150 SM) berusaha menjelaskan mengapa kecepatan matahari tidak tetap. Hipparchus percaya dengan dogma Aristoteles bahwa benda langit bergerak melingkar dengan kecepatan tetap. Hippparchus berteori: Memang benar matahari mengelilingi bumi dengan kecepatan tetap, namun bumi tidak terletak di pusat lintasan matahari. Bumi letaknya bergeser dari pusat (eksentik). Jadi jarak antara matahari dan bumi tidak tetap. Ketika matahari lebih dekat dengan bumi, matahari terlihat bergerak lebih cepat, sebaliknya ketika matahari lebih jauh, matahari terlihat lebih lambat. Untuk jelasnya lihat gambar

teory hipparchus

Pergerakan matahari dan planet menurut teory Hiparchus. Bumi tidak terletak di pusat Deferent!

Teory Hipparchus ini cukup memuaskan dan bertahan sampai 300 tahun. Melalui pengamatan yang sangat teliti ternyata teori Hipparchus ini sedikit meleset dari kenyataan sebenarnya. Claudius Ptolemy (150 M) astronom dari Mesir menemukan cara menghitung posisi matahari yang lebih teliti. Seperti Hipparcus, Ptolemy meletakkan bumi dengan bergeser dari pusat. Matahari bergerak dengan kecepatan tetap tapi tidak dilihat dari titik pusat lingkaran, melainkan jika dilihat dari titik Equant. Letak Equant berseberangan dengan letak bumi. Equant dan bumi mempunyai jarak yang sama diukur dari pusat.

teory ptolemy

Pergerakan matahari dan planet menurut teori Ptolemy. Seperti Hipparchus, bumi tidak terletak di pusat Deferent. Matahari atau epycicle bergerak dengan kecepatan sudut tetap bila dilihat dari equant

Teory Ptolemy ini melanggar dogma Aristoteles yang menghendaki gerak melingkar kecepatan tetap. Kalau dilihat dari Equant kecepatan sudut matahari tetap. Tetapi kalau dilihat dari pusat, kecepatan sudutnya semakin besar bila matahari menjauhi equant. Walaupun bertentangan dengan Aristoteles tetapi teori Ptolemy terbukti akurat. Anda belum terlalu paham dengan penjelasan ini? Coba lihat animasinya disini: Lintasan Matahari Ptolemy

Sejauh ini kita telah membahas gerakan bintang-bintang dan matahari. Sekarang bagaimana gerak planet? Gerak planet cukup ganjil sewaktu-waktu dapat terlihat berhenti, kemudian bergerak mundur (retrograde) dan kembali bergerak maju. Oleh karena gerak planet yang ganjil ini orang berteori bahwa gerak planet terdiri gabungan gerak melingkar dengan lingkaran kecil (epicycle) dalam lingkaran besar (deferent).

Animasi tak dapat ditampilkan, broser tidak mendukung canvas. Silahkan update browser terbaru

Gerak Planet menurut Ptolemy
Gerak Planet menurut Shatir
Gerak Matahari menurut Shatir/Copernicus

Animasi yang menggambarkan gerak planet. Planet berputar dalam epycyle sedang epycycle mengelilingi deferent. Perhatikan kecepatan epycycle mengelilingi deferent tidak tetap. Ketika epycycle bergerak lambat membentuk ikal (loop) yang gemuk. Sedangkan bila epycycle bergerak cepat akan membentuk ikal yang kurus.

Menurut Ptolemy gerak epycycle mengelilingi deferent tidak dengan kecepatan tetap tetapi kecepatannya berubah akibat adanya Equant. Besarnya eksentrisitas sebenarnya amatlah kecil. Di sini eksentrisitas digambar besar agar jelas terlihat. Kenyataannya besarnya eksentrisitas matahari e = 0.0167, eksentrisitas Mars e = 0.0934, eksentrisitas Yupiter e = 0.0485. Bilangan eksentristas tadi adalah dibandingkan dengan jari-jari deferent.

Ptolemy menulis buku berfaham geosentris mengenai pergerakan benda-benda langit dengan judul Almagest. Perhitungan Ptolemy cukup akurat, sehingga Almagest menjadi "buku suci" tentang pergerakan benda langit yang bertahan sampai lebih dari 15 abad (seribu lima ratus tahun) sampai Copernikus mengajukan teori Heliocentris. Ini menunjukkan Ptolemy sangat pintar, berbakat dan mahir dalam bidang geometri (ilmu ukur). Ini bertentangan dengan sebagian penulis di Internet yang "membully" Ptolemy sebagai orang bodoh yang membawa manusia dalam kegelapan selama ribuan tahun. Sesungguhnya umat manusia berutang pada Ptolemy dengan teori pergerakan benda-benda langit. Adalah wajar bahwa teori yang dibuat anak manusia tidak sempurna. Tugas generasi berikutnya untuk menyempurnakan teori sebelumnya agar sesuai dengan fakta yang baru. Teori Hippachus disempurnakan oleh Ptolemy. Teory Ptolemy disempurnakan oleh Copernicus. Teori Copernicus disempunakan oleh Yohanes Kepler. Teori Yohanes Kepler disempunakan oleh Newton dan seterusnya. Jadi kalau seandainya tidak ada teori Geocentris Ptolemy, tidak ada pula teory Heliocentris Copernicus. Sesungguhnya Copernicus hanyalah menyempurnakan teori-teori sebelumnya!

Begitulah pada zaman dahulu orang mempercayai teori geocentris, yakni semua benda langit bergerak mengelilingi bumi. Pada zaman Yunani Kuno sebenarnya ada orang yang berpendapat extrim yang mengatakan bumi beserta planet-planet bergerak mengelilingi matahari, misalnya Aristarchus (310-230 SM). Beliau piawai dengan ilmu geometri sehingga mampu menghitung jarak bulan, jarak matahari, besarnya bulan dan besarnya matahari. Ternyata matahari jauh lebih besar dari bumi, maka tidak masuk akal matahari yang jauh lebih besar dari bumi harus tunduk pada bumi yang kecil mungil. Seharusnya yang benar adalah bumi beserta planet-planetlah yang beredar mengelilingi matahari. Tetapi orang-orang pada zamannya tidak percaya pendapat Aristarchus. Akhirnya teori Heliocentris Aristarchus lenyap ditelan zaman! Menarik untuk disimak bagaimana orang yang hidup ribuan tahun yang lalu, sebelum nabi Isa lahir, telah mampu menghitung jarak matahari. Hal tersebut patut kita bahas pada artikel lain.

Zaman Kejayaan Islam

Bersamaan dengan runtuhnya kekaisaran Romawi di Eropa abad ke-4, perkembangan ilmu Astronomi di Eropa setelah Ptolemy mengalami stagnasi. Ilmu astronomi bisa dilupakan orang apabila tidak diwariskan ke generasi berikutnya. Untunglah, muncul kebudayaan Islam yang kemudian memelihara dan mengembangkan ilmu astronomi..

Motivasi utama Islam untuk mempelajari astronomi adalah:

  1. Menentukan arah kiblat
  2. Mempelajari pergerakan bulan untuk menentukan hari raya
  3. Menentukan waktu sholat dan lain lain

Masalah-masalah di atas yang kelihatannya sederhana, sebetulnya sangat pelik ("mission imposible"). Diperlukan perjuangan yang amat panjang untuk memecahkan masalah di atas. Arah kiblat dapat dihitung dengan teliti setelah abad ke 17 (seribu tahun setelah Islam). Bahkan pergerakan bulan merupakan misteri sepanjang zaman, posisi bulan dapat dihitung dengan akurat baru pada abad ke-20!!!

Pada zaman keemasan Islam buku-buku astronomi Yunani, astronomi India, di terjemahkan ke dalam bahasa arab (termasuk Almagest -nya Ptolemy). Didirikan pula observatorium, yakni tempat untuk mengamati pergerakan benda-benda langit.

Masa keemasan Islam mewariskan ilmu aljabar, pengembangan lebih lanjut dari trigonometri (ilmu ukur segitiga) dan lain-lain. Pengaruh budaya Islam dalam astronomi misalnya kita kenal istilah astronomi seperti: Zenit, Nadir, Azimuth, Almanac dan lain-lain. Kita mengenal pula nama-nama bintang dengan bahasa arab seperti Al Nitak, Al Nilam, Mintaka yakni 3 bintang pada sabuk Orion.

Astronom-astronom kenamaan semasa Islam sangat banyak tapi saya ingin memberi kredit point pada Ibnu Al-Shatir (1304 - 1375 M). Beliau tidak suka dengan equant usulan Ptolemy. Hal tersebut melanggar dogma geocentris Aristoteles. Seharusnya gerak benda langit adalah superposisi dari gerakan melingkar dengan kecepatan tetap, bukannya dengan kecepatan yang berubah. Karena itu Shatir membuang jauh-jauh ide equant-nya Ptolemy. Shatir mengganti equant dengan minor epicycle (lingkaran kecil) yang berputar dengan kecepatan tepat 2 kali lebih cepat dari deferent. Ide Shatir tergambar seperti gambar di bawah ini. Lebih jelasnya silahkan simak animasi di atas, pilihlah gerak matahari menurut Shatir/Copernicus.

teory shatir

Pergerakan matahari menurut Shatir/Copernicus. Shatir membuang equant, sebagai gantinya minor epicycle yang berputar mengelilingi deferent. Ukuran minor epicycle = 1/2.e dan kecepatan putarnya tepat 2 kali kecepatan putar deferent

Jadi gerak planet menurut Shatir akan terdiri dari gabungan gerak lingkaran besar (deferent), minor epicycle dan epicycle, masing-masing bergerak dengan kecepatan tetap. Teori Shatir ini kurang lebih sama akuratnya dengan teori Ptolemy. Bedanya teori Shatir istiqomah (taat azas) dengan dogma Aristoteles, semua lingkaran dalam teori Shatir bergerak dengan kecepatan tetap! Untuk jelasnya lihat animasi di atas! Pilihlah gerak planet menurut Shatir.

Menarik untuk dicatat: sekalipun ilmu astronomi pada masa keemasan Islam mengalami banyak kemajuan, tetapi masih belum lepas dari alam pikiran geocentris.

Sama dengan Shatir, Copernicus tidak senang dengan equant-nya Ptolemy, karena itu Copernicus (dipercaya??) mengadopsi ide Shatir dalam teori heliocentris yang revolusioner itu!! Tapi cerita tentang hal itu kita tunda dulu pada tulisan selanjutnya supaya tulisan ini tidak terlalu panjang dan pembaca menjadi bosan.

Bila pembaca ingin melihat animasi gerak benda langit, matahari, bulan, planet dan bintang dalam bola langit, silahkan lihat: Menghitung Posisi bulan. Pilih view -> Bola langit, step -> 24 jam kemudian klik tombol animasi.

Bacaan:

Gereja Vs Galileo : https://filiuspater.wordpress.com/2010/04/01/galileo-galilei-vs-gereja-katolik/

Agama dan geocentris : https://fauzansa.wordpress.com/2005/10/18/hari-gini-masih-percaya-sama-geosentris/
http://ajaran-alkitabiah.com/2014/01/22/matahari-mengellingi-bumi-geosentris-alkitabiah/

Astronomi: http://farside.ph.utexas.edu/Books/Syntaxis/Almagest/node4.html

 


Komentar:

andreas(2016-02-22 13:11:15)

Bumi berotasi pada porosnya telah dibuktikan oleh Jean Bernard Leon Foucault yang terkenal dengan Foucault Pendulum


Silahkan tulis komentar anda: